BPOM Cermat Mengeluarkan Peraturan Nomor 10 Tahun 2019

BPOM Cermat Mengeluarkan Peraturan Nomor 10 Tahun 2019

Tanggal 22 Mei 2019, Badan pengawas obat dan makanan mengeluarkan peraturan terbaru terkait pedoman pengolahan obat-obat tertentu yang sering disalahkangunakan. Obat-Obat Tertentu adalah obat yang bekerja di sistem susunan syaraf pusat selain narkotika dan psikotropika, yang pada penggunaan di atas dosis terapi dapat menyebabkan ketergantungan dan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Pada dewasa

Tanggal 22 Mei 2019, Badan pengawas obat dan makanan mengeluarkan peraturan terbaru terkait pedoman pengolahan obat-obat tertentu yang sering disalahkangunakan. Obat-Obat Tertentu adalah obat yang bekerja di sistem susunan syaraf pusat selain narkotika dan psikotropika, yang pada penggunaan di atas dosis terapi dapat menyebabkan ketergantungan dan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Pada dewasa ini, penggunaan obat-obat tertentu semakin marak dengan tingginya angka kenakalan remaja. Mereka yang secara psikologi masih mencari jati diri lebih umum melakukan sesuatu untuk menarik perhatian orang lain, tidak menutup kemungkinan bagaimana mereka melakukan hal-hal diluar batas kewajaran untuk mendapatkan pengakuan tersebut baik dari orang yang lebih tua maupun rekan sejawatnya.

Mengkonsumsi obat-obatan sebagai pengakuan inovasi dan eksperimenpun mereka lakukan selain mengkonsumsi hal-hal “mainstream” lain seperti mengkosumsi minuman keras jenis Alkohol. Maraknya hal tersebut, agar segera membuat tembok pemisah dan jeratan hukum yang jelas agar membatasi penyalahgunaan obat-obat tersebut. Kriteria Obat-Obat Tertentu dalam Peraturan Badan ini terdiri atas obat atau Bahan Obat yang mengandung : Tramadol, Triheksifenidil, Klorpromazin, Amitriptilin, Haloperidol dan dekstrometorfan.

Tramadol dan Triheksifenidil merupakan obat-obatan yang beberapa tahun ke belakang sering muncul penyalahgunaan penggunaan. Obat-obat diatas hanya bisa digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan menggunakan resep dokter dan atau ilmu pengetahuan. Sehingga sarana kesehatan seperti apotek tidak dapat memberikan secara bebas melalui swamedikasi pada pasien yang memintanya. Begitu juga pada sarana kesehatan seperti toko obat dilarang untuk menjual-belikan karena termaksud kategori golongan obat keras. Tetapi pada kenyataannya sering kali kita dipertontongan bagaimana obat tersebut dijual-belikan pada toko obat mengunakan kode-kode khusus untuk mendapatkan obat tersebut, sehingga harus ada upaya yang lebih mendalam agar terpantaunya lebih pada menghindari hal-hal tersebut.

Pada kasus terbaru sedang marak penyalahgunaan obat jenis “Dekstrometorfan”, walaupun tergolong inovasi lama dan sudah dilarang diperjual-belikan secara bebas. Tetapi tidak menutup eksperimen para pengguna untuk melakukan penyalahgunaan obat “Dekstrometorfan” tersebut. Pada pasal 7 peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2019 tersebut mengatur bagaimana Fasilitas Pelayanan Kefarmasian dilarang menyerahkan “Obat-Obat Tertentu” yang mengandung Dekstrometorfan secara langsung kepada anak berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun. Dekstrometorfan terkandung pada obat-obat batuk kemasan sachet yang masih kategori Obat Bebas Terbatas yang apabila digunakan dalam dosis terlebih akan mengubah antivitas mental maupun prilaku seseorang. Obat-obat yang mengandung Dekstromertofan harganya murah, obat yang mengandung Dekstromertofan sering kali menjadi pilihan anak-anak dalam berinovasi dengan kesesuain uang saku kalangan anak seusia sekolah. Dalam hal ini apabila terdapat keraguan usia anak sebagaimana dimaksud, tenaga kefarmasian di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian dapat meminta identitas anak yang menunjukkan tanggal lahir yang bersangkutan.

Apabila pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dilanggar maka akan mendapatkan : peringatan lisan, peringatan keras tertulis, penghentian sementara kegiatan, pembatalan persetujuan izin edar, rekomendasi pencabutan pengakuan PBF Cabang dan rekomendasi pencabutan izin. Titik berat pada pelanggaran adalah pencabutan izin, hal ini sudah seharusnya dilakukan agar mendapatkan efek jera kepada pemilik usaha yang bersangkutan maupun pelaku usaha lain untuk selalu mentaati peraturan sudah dibuat. Harapan terbesar pada peraturan ini adalah dapat melakukan monotoring dan sosialisasi pada pihak yang bertanggung jawab pada struktural pengawasan sampai pada tingkat daerah bersama-sama untuk menjaga peredaran “Obat-Obat Tertentu” dalam hal pencegahan penyalahgunaan maupun menjaga generasi muda untuk diarahkan ke kegiatan yang lebih positif.

farmasi.nimda
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *